Delegasi Pertamina Sobat Bumi ikuti Caretakers of the Environmental International Conference 2014 di Yilan Taiwan

Caretakers of the Environment International merupakan suatu jaringan guru dan pelajar di tingkat internasional dalam bidang pendidikan lingkungan. Caretakers of the Environment International mengorganisir acara konferensi tahunan untuk mengeksplorasi tema-tema penting dalam isu pendidikan lingkungan melalui project, workshop, fieldtrip, diskusi dan partisipasi aktif lainnya. Jaringan Caretakers of the Environment International telah berjalan selama 28 tahun dan memiliki perwakilan di beberapa negara untuk memfasilitasi guru dan pelajar untuk melanjutkan project-project yang dilakukan ketika konferensi dan forum nasional untuk pertukaran pengalaman dan pengetahuan di bidang lingkungan. Acara Caretakers Environmental International Conference 2014 dilaksanakan di Huey-Deng High School di Yilan County, Tiwan dengan peserta yang berasal dari 17 negara.

Caretakers Environmental International Conference 2014 membahas mengenai ‘Nature, Culture and Future’ dengan memfokuskan pada lima subtema yaitu : kedaulatan pangan dan pola pangan ramah lingkungan, inspirasi pengetahuan tradisional dan budaya, pengurangan ecological footprints dan zero waste, teknologi tepat guna dan energi terbarukan, serta pembangunan berkelanjutan.

Dalam kesempatan tersebut, delegasi yang berasal dari Indonesia merupakan perwakilan dari Pertamina Sobat Bumi yang terbagi menjadi dua tim yaitu Sekolah Sobat Bumi dan Edukator Periset Sobat Bumi. Tim Sekolah Sobat Bumi terdiri dari Ni Gusti Ayu Agung Novita Dhamayanti (siswi SMAN 5 Denpasar) mempresentasikan tentang program bahan bakar nabati (BAKARTI) yang telah dikembangkan oleh siswa-siswa SMAN 5 Denpasar, Ira Nur Aini (Siswi SMKN 1 Probolinggo) mempresentasikan tentang program pembangkit listrik tenaga mikro hidro yang dikembangkan disekolahnya, Rohmat (siswa SMKN 3 Sukabumi) mempresentasikan tentang biogas yang telah dikembangkan disekolahnya, Hafizh Mi Razul Gozali (siswa SMPN 7 Bandung) mempresentasikan tentang ecotransport yang telah dikembangkan disekolahnya , Supriyanto (Pendamping Sekolah SDN 04 Metro Lampung) merupakan pendamping sekolah sobat bumi champion, Yuni Astutik (Guru SDN Ungaran 1 Yogyakarta) mempresentasikan instrumen pendidikan ke siswa-siswi melalui lagu mengenai umbi-umbian lokal yang dikembangkan di SD Negeri Ungaran 1 Yogyakarta, Rina Kusuma (Kehati Foundation), Anak Agung Rai Miyati (Guru SMA Negeri 5 Denpasar), Dewi Maya (SD Negeri 83 Kota Pekanbaru) yang mempresentasikan mengenai mencintai pangan lokal, sedangkan tim edukator periset sobat bumi terdiri dari Satyaguna Rakhmatulloh (mahasiswa S1 Fakultas Peternakan UGM), Dr. Muchlis (Dosen dan Peneliti di IST AKPRIND Yogyakarta), Tuti Wahyuni, M.Si (Pusat Pengkajian dan Perekayasaan Teknologi Kelautan dan Perikanan Kementerian Kelautan dan Perikanan), Ainul Mardhiah, S. Pd (Universitas Syah Kuala Banda Aceh), Budi Nuryanto, SE (Forum Taaruf Indonesia), Agie Nugroho, S. AN (Universitas Airlangga Surabaya), Dr. K. Rida Hesti Ratnasari (Pertamina Foundation). Tim edukator periset sobat bumi mempresentasikan mengenai teknologi tepat guna, social engineering mengenai 3R (reduce, reuse, and recycle), pemecahan masalah mengenai kerusakan ekologi, perubahan mindset melalui one thousand wedding to green, integrated farming (sistem pertanian terpadu), serta women empowerment melalui sabun rumput laut skala home industry.

Selama kegiatan pelaksanaan Caretakers Environmental International Conference 2014 selain kegiatan indoor (presentasi, workshop, cultural performance, serta exhibition) peserta juga diajak untuk mengunjungi situs-situs bersejarah, museum, pertanian organik dan pertanian terpadu yang dikembangkan petani, sungai-sungai dan gunung untuk menemukan keragaman budaya dan alam di Yilan., sedangkan kegiatan seminar dan workshop membahas topik kedaulatan pangan, permaculture, pembangunan berkelanjutan, inisiatif internasional dan lokal berkaitan dengan lingkungan. Kegiatan tersebut berfokus pada aktifitas aktif dan event social untuk mendorong partisipasi aktif delegasi-delegasi dari berbagai negara.

Oleh : Satyaguna Rakhmatulloh
(Pertamina Sobat Bumi Delegation on Caretakers of the Environmental International Conference Yilan Taiwan 2014)

Comments (21)

Sekilas Cerita Kepanitiaan 15th Career Days UGM 2014 (part 1) : Lunturkah Budaya Membaca Kita?

by : Satyaguna Rakhmatulloh
Sie Pemandu Tes

Kepanitiaan 15th Career Days UGM 2014 merupakan salah satu kepanitiaan yang telah memberikan ribuan bahkan jutaan kesan, pengalaman, dan cerita tersendiri bagi individu yang tergabung didalamnya. Mulai dari proses seleksi yang dilakukan oleh tim dengan sangat selektif, proses briefing mingguan yang sangat memberikan ilmu yang belum tentu kita peroleh dibangku kuliah, serta proses ikut berpartisipasi dalam membantu dan memandu tes beberapa perusahaan yang memberikan gambaran akan kondisi kebutuhan tenaga kerja saat ini sekaligus belajar membaca akan awal dimulainya bonus demografi yang akan dirasakan bangsa ini.
Pengalaman yang paling berkesan sekaligus merupakan pembelajaran tersendiri ialah acara Career Days Minggu, 11 Mei 2014 di Grha Sabha Pramana. Kala itu saya memandu test untuk tiga perusahaan yang bergerak dalam berbagai bidang, ada yang di media, pengembang, dan energi, selain itu juga mengamati berbagai tingkah dari job seeker untuk proses rekrutmen dari perusahaan media dan perbankan di ruangan sebelah. Pembelajaran yang bisa kita ambil sekaligus kita sudah selayaknya kita aplikasikan dalam kehidupan sehari hari ialah mengenai “budaya membaca”. Waktu itu banyak sekali job seeker yang rata-rata merupakan pemuda (harapan pemudi katanya hahaha) dengan sengaja dan tanpa tahu dosa melanggar tulisan yang bersifat informasi apabila tanpa petugas ditempat tersebut (bersambung ‘…)

Comments

Catatan Kecil Aksi Sobat Bumi

Keindahan dan keseimbangan ekosistem alam Nusantara yang terbentang dari Sabang hingga Merauke merupakan salah satu anugerah dan rahmat yang diberikan Tuhan Yang Maha Esa kepada rakyat Indonesia yang harus dijaga dan dilestarikan. Pelestarian dan penjagaan keindahan alam dan keseimbangan ekosistem Indonesia tersebut tak terlepas dari potensi dan kondisi geografis pada setiap daerah serta merupakan tanggungjawab dari semua lapisan masyarakat. Fenomena yang selama ini kita lihat, keindahan alam dan keseimbangan ekosistem Nusantara mulai menurun, hal ini tentunya disebabkan beberapa faktor antara lain: dampak bencana alam yang terjadi serta ulah oknum masyarakat Indonesia yang menginginkan keuntungan bersifat jangka pendek dari perampasan keindahan alam dan keseimbangan ekosistem. Hal tersebut mengakibatkan perlu adanya upaya konservasi yang digunakan untuk menjaga sekaligus melestarikan keindahan alam dan keseimbangan ekosistem yang bersifat jangka panjang serta bermanfaat secara ekonomi dimasa yang akan datang. Salah satu cara untuk menjaga keindahan alam dan keseimbangan ekologi adalah dengan menjaga ketersediaan air (konservasi air), terutama di wilayah lereng pegunungan yang terkadang kesulitan air dimusim penghujan dengan dilakukan penanaman pohon. Konservasi air sangat beranfaat bagi masyarakat yang tinggal di lereng pegunungan antara lain untuk aktivitas sehari hari serta sangat bermanfaat untuk menjaga laju air ditingkat bawah. Kegiatan konservasi air tersebut juga dilakukan di Tlogolele, Selo, Boyolali Jawa Tengah dengan nama program Penanaman Raya Untuk Indonesia Hijau yang merupakan Program Pengabdian Masyarakat yang didanai dari Anugerah Riset Sobat Bumi Pertamina Foundation 2013. Pogram ini merupakan realisasi dari program Konservasi Lereng Merapi dan konservasi air merupakan bentuk kegiatan konsorsium beberapa organisasi dan lembaga yakni Sobat Bumi Jogja, Gerakan Indonesia Gaduhan Ternak, PPMBR UGM, FOSMAPET UGM, dan KUJ sebagai kelanjutan dari pengabdian masyarakat. Penanaman raya tersebut juga dilakukan dengan Masyarakat Tlogolele dimulai dengan penggalian lubang, sosialisasi cinta lingkungan, dan penanaman sebanyak 324 tanaman buah dan pohon di pinggir jalan desa, serta pekarangan masyarakat. Kegiatan penanaman raya tersebut berhasil sukses berkat adanya kerjasama antara tim konsorsium bersama masyarakat bahu membahu menggali lubang, plotting tanaman, dan menanam pohon. Kerja sama yang terjadi dari setiap kegiatan menjadi pengalaman tersendiri bagi masyarakat dan tim konsorsium yang ikut hadir dan berpartisipasi dalam kegiatan tersebut. Setelah selesai proses penanaman, dilanjutkan dengan agenda sarasehan dan makan bersama di kediaman kepala dusun setempat. Besar harapan kegiatan ini bisa berkelanjutan, dan menjadi sarana program pengabdian masyarakat berkelanjutan di Tlogolele.

Comments

Upaya Pengurangan Deforestasi dan Degradasi Hutan melalui Pengembangan Konsep Wilayah Berbasis Integrated Culture and Tourism Agroforestry

Percaturan dunia dalam penjagaan kondisi perubahan iklim global dan konsentrasi di bidang lingkungan hidup sudah menjadi hal yang patut menyadarkan semua sektor yang terlibat dalam kegiatan penjagaan tersebut, salah satunya usaha, pemanfaatan, serta penjagaan fungsi dalam sektor kehutanan. Ranah internasional telah mengakui bahwa Indonesia merupakan paru-paru dunia karena memiliki luas hutan yang cukup untuk menyuplai 30 persen kebutuhan oksigen dunia, selain hal tersebut Indonesia juga disebut sebagai destinasi pariwisata yang cukup diperhitungkan, baik yang bersifat kebudayaan (culture), nilai-nilai sejarah (history), maupun yang berifat alam (nature). Destinasi tempat pariwisata diseluruh penjuru negeri memiliki memiliki keanekaragaman yang tersebar dan cukup melimpah, mulai dari spotspot panorama keindahan alam yang didukung dengan biodiversitas lokal yang sangat potensial untuk dikembangkan dalam dunia ilmu pengetahuan dan teknologi, beranekan kegiatan adat yang kental akan nuansa dan ciri khas budaya Indonesia, serta situs-situs bersejarah baik yang ter-expose maupun tidak ter-expose.

Sektor kehutanan merupakan salah satu sumber penghasil keuntungan dari kegiatan yang bersumber dari tiga fungsi yang dimiliki oleh hutan tersebut, antara lain yaitu fungsi produksi, konservasi, dan lindung yang mengakibatkan mendukung hutan untuk mempunyai potensi yang bisa dikembangkan baik dalam bentuk materi maupun non-materi yang akan berakibat pada pengurangan deforestasi dan degradasi hutan. Kawasan hutan terdiri dari tiga fungsi yaitu fungsi produksi, konservasi, dan lindung. Kawasan hutan yang memiliki fungsi produksi yaitu kawasan hutan yang memiliki pengembangan terhadap sumber daya hutan yang berujung pada peningkatan hasil hutan (kayu, rotan, getah, serta hasil hutan lainnya) yang berakibat pada aspek ekonomi baik secara mikro (ekonomi kerakyatan) maupun ekonomi makro dan berkorelasi terhadap pendapatan domestik bruto. Kawasan hutan yang memiliki fungsi sebagai konservasi adalah kawasan hutan yang berfungsi sebagai tempat konservasi bagi flora, fauna, maupun satwa yang digolongkan langka dan hampir punah. Kawasan hutan dengan fungsi konservasi juga memiliki nilai ekonomi dari berbagai bentuk aktivitas kunjungan wisatawan berbasis agroforestry. Kawasan hutan yang memiliki fungsi sebagai fungsi lindung adalah kawsan hutan yang menghasilkan produk berupa non-materil akan tetapi memiliki fungsi yang tidak jauh penting bagi kehidupan antara lain air dan oksigen.

Berdasarkan menurut uraian tersebut, hendaknya potensi dari hutan dan hasil hutan yang dikembangkan harus ada sinergi dan integrasi dengan sektor lain yang tidak kalah penting menuju konsep besar yaitu pengurangan deforestasi dan degradasi hutan. Salah satu sektor yang sangat strategis untuk disinergikan sekaligus merupakan upaya integrasi adalah sektor pariwisata (tourism). Sektor pariwisata sangat erat kaitannya dengan integrasi antara sektor-sektor yang ada didalamnya serta mendukung secara penuh dalam mengawal dan menuju upaya pengurangan deforestasi dan degradasi hutan. Menurut Badan Pusat Statistik (BPS) , secara keseluruhan jumlah wisatawan mancanegara yang datang ke Indonesia pada tahun 2011 mencapai 7,65 juta orang atau meningkat 9,24 persen jika dibandingkan wisatawan mancanegara 2010 sebesar 7,00 juta, selanjutnya berdasarkan penelitian terhadap wisatawan mancanegara yang akan meninggalkan Indonesia (Passenger Exit Survey-PES) yang dilakukan oleh Kementerian Pariwisata dan Ekonomi Kreatif, menunjukkan mengalami penurunan sebesar 2,49 persen dibanding tahun sebelumnya, yaitu dari 8,04 hari menjadi 7,84 hari. Seiring dengan peningkatan jumlah kunjungan dan pengeluaran wisatawan mancanegara per kunjungan, penerimaan devisa pariwisata pada tahun 2011 mencapai US$8,6 miliar atau naik 13,16 persen jika dibanding penerimaan devisa tahun sebelumnya yang mencapai US$7,6 miliar.

Peningkatan kunjungan wisatawan tersebut masih tergolong memusat (centered)  pada beberapa wilayah yang berada di luar Pulau Jawa. Tujuan kunjungan wisata masih didominasi dengan tempat wisata yang menyuguhkan keindahan alam sekaligus memiliki kearifan lokal pada masyarakatnya. Salah satu pengembangan wisata di Indonesia yang mengalami peningkatan cukup signifikan adalah kunjungan wisata berbasis agroforestry atau perpaduan antara kehutanan dan konsep agobisnis yang ada didalamnya, antara lain: pertanian, perikanan, peternakan, dan perkebunan yang dipadukan secara sinergis dan terintegrasi dengan baik dengan aspek pariwisata.

Potensi pariwisata berbasis agroforestry serta didukung akan integrated-culture berupa kearifan kearifan lokal layak untuk dikembangkan dalam rangka mendorong peningkatan aktivitas pariwisata secara global serta memperkuat sendi-sendi upaya dalam pengurangan deforestasi dan degradasi hutan yang diimbangi dengan adanya penjagaan kawasan hutan dari masyarakat, oleh masyarakat, dan untuk masyarakat tersebut. Sebutan hutan sebagai paru-paru merupakan salah satu modal awal yang cukup besar yang harus dioptimalkan hasilnya sebagai ujung tombak sumber pendapatan serta penjagaan kawasan hutan melalui integrasi dan sinergi dari beberapa faktor yang ada, serta menghasilkan dampak yang berantai (multiplayer impact) sehingga secara otomatis penjagaan hutan berupa upaya pengurangan deforestasi dan degradasi hutan akan berjalan secara berkelanjutan (sustainable) yang berakibat pada peningkatan kualitas  lingkungan hidup.

Beberapa negara di dunia yang mengembangkan sektor pariwisata sebagai sumber pendapatan, tak luput juga mengandalkan potensi budaya yang ada dalam obyek wisata (agroforestry) sebagai daya tarik tersendiri. Keinginan untuk memanfaatkan budaya lokal berbasis integrated culture sebagai daya tarik wisata mulai muncul tahun 1963 ketika Dewan Ekonomi dan Sosial Perserikatan Bangsa-bangsa (United Nations) mengadakan konferensi tentang International Travel and Tourism di Roma. Dalam Laporan Konferensi Roma itu UNESCO menyajikan laporan bertajuk The Cultural Factors in Tourism yang isinya selain menekankan pentingnya pariwisata untuk mempromosikan perdamaian, persahabatan antarnegara, laporan itu juga sebagai deklarasi penegasan tentang pentingnya negara-negara untuk melestarikan (preserve) dan mempromosikan (promote) budaya dalam pembangunan ekonomi negara berbasis integrasi dan sinergi dengan berbagai sektor, antara lai sektor kehutanan, sehingga berdampak terhadap efek yang bersifat berkelanjutan (sustainable) dalam upaya pengurangan deforestasi dan degradasi hutan melalui pengembangan konsep wilayah berbasis Integrated Culture dan Tourism Agroforestry.

Comments

Ikuti Kompetisi Debat Berbahasa Indonesia Tingkat Nasional 2013 Bidang Peternakan, Mahasiswa Peternakan UGM sabet Juara III

Kompetisi Debat Berbahasa Indonesia Tingkat Nasional (KDBITN) di bidang peternakan merupakan salah satu agenda tahunan dari Lembaga Pers Mahasiswa Husbandry (LPM Husbandry) dalam memperingati Dies Natalis Fakultas Peternakan Universitas Jenderal Soedirman yang ke-48 dan Hari Ulang Tahun Emas Universitas Jenderal Soedirman yang ke-50. Debat yang dilaksanakan pada tanggal 22 sampai 24 Maret 2013 di Purwokerto dengan bertujuan meningkatkan kemampuan berbahasa Indonesia dan mengkritisi permasalahan faktual yang ada di masyarakat terutama dalam bidang peternakan, serta mampu berposisi dan meyakinkan publik bahwa posisi mereka benar dan tepat baik dari segi pro maupun kontra. Peserta KDBITN merupakan kelompok mahasiswa yang lolos seleksi berdasarkan essay dan merupakan mahasiswa aktif Fakultas Peternakan dari berbagai perguruan tinggi di Indonesia. “KDBITN merupakan momentum pembedahan kekinian Indonesia di bidang peternakan, melalui acara ini bisa bertemu dan berpikir bersama dengan civitas akademika nasional menguak problematika peternakan secara kritis, objektif, dan realistis, serta meng-explore segala pengetahuan dan pikiran yang kreatif dan inovatif untuk memecahkan segala problematika peternakan, sehingga acara KDBITN patut dipertahankan untuk peternakan Indonesia yang lebih baik”, tegas M. Imam Nurhidayat, salah satu peserta dari Universitas Gadjah Mada.

Seleksi yang diterapkan untuk mengikuti KDBITN  tersebut yaitu dengan proses seleksi berdasarkan essay yang dikirimkan oleh partisipan dan diseleksi oleh panitia. Berdasarkan hasil seleksi essay terdapat 16 kelompok  yang berasal dari 7 Fakultas Peternakan di Perguruan Tinggi Negeri se-Indonesia, yaitu Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Negeri Sebelas Maret (UNS), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Jenderal Soedirman (UNSOED), Universitas Padjajaran (UNPAD) dan Institut Pertanian Bogor (IPB), tiga  kelompok diantaranya berasal dari Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta.

Kelompok Debat dari Universitas Gadjah Mada (UGM) 1 terdiri dari Danny  Adhi  Pratomo (2009), Muh. Imam Nurhidayat (2011), dan Novi Akhirini (2011). Kelompok Universitas Gadjah Mada (UGM) 2 terdiri dari Dwi Abdul Mufi (2011), Logita Pricilia (2011), dan Dita Aviana Dewi (2012). Kelompok Universitas Gadjah Mada (UGM) 3 terdiri dari Satyaguna Rakhmatulloh (2010), Atik Winarti (2010) dan Dwitiya Martharini (2010).

Secara keseluruhan, argumentasi debat dari kelompok UGM tidak hanya beradu kekuatan berbicara atas mosi yang diberikan baik pro maupun kontra dalam permasalahan sub sektor peternakan yang sedang menjadi topik utama, tetapi juga didasarkan dari fakta-fakta ilmiah yang telah dikaji dari sisi akademis maupun survey dari lembaga terkait serta didukung dengan keadaan nyata yang ada di lapangan dalam hal ini masyarakat. Tahap akhir dari debat yang berlangsung mahasiswa juga dituntut untuk bisa memberikan solusi dari permasalahan yang sering muncul di peternakan secara ilmiah, logis, mudah diaplikasikan dan sesuai dengan keadaan di masyarakat. Adapun tema mosi diperdebatkan pada babak penyisihan antara lain: swasembada daging sapi 2014, pemuasaan sapi sebelum dipotong, peran koperasi untuk kesejahteraan peternak sapi perah, penggunaan stunning pada pemotongan sapi, peran village breeding menambah bakalan sapi potong, antibiotik pada ayam broiler, kelompok peternak dalam meningkatkan produktivitas ternak, dan peternakan pemicu global warming, sedangkan tema mosi yang diusung pada partai perempat final hingga final lebih mengkerucut menuju kebijakan dan permasalahan industri persusuan, yaitu :  Menurut kelompok UGM 3 yang terdiri dari terdiri dari Satyaguna Rakhmatulloh, Atik Winarti dan Dwitiya Martharini solusi yang ditawarkan dalam permasalahan yang ada di subsektor peternakan, yaitu harus ada upaya untuk saling bersinergi kalangan baik akademisi, stakeholder, serta mahasiswa sekaligus saling terintegrasi terhadap pemecahan persoalan tersebut.

Hasil akhir kompetisi ini, kelompok UGM 3 yang terdiri dari Satyaguna Rakhmatulloh, Atik Winarti dan Dwitiya Martharini mendapatkan juara III, sedangkan juara I dan II didapat oleh mahasiswa peternakan Universitas Brawijaya Malang. “Langkah yang paling baik dari hasil kompetisi debat ini adalah implementasi dari ide dari peserta atau mahasiswa peternakan pada umumnya yang kami kira memiliki pemikiran luar biasa di bidang peternakan alias tidak hanya bicara persoalan peternakan tetapi juga diimplementasikan secara nyata dalam langkah pasti pemecahan persoalan peternakan di Indonesia”, pungkas Satyaguna Rakhmatulloh, selaku koordinator kelompok UGM 3 usai mengikuti kompetisi debat tersebut.
Testimoni
Atik : Untuk membangun peternakan rakyat indonesia sehingga menghasilkan produk peternakan yang mampu bersaing dengan produk peternakan import diperlukan integrasi dan sinergitas serta pendidikan dari semua yang terkait

Logita : Lebih kepada konsep pemetaan wilayah yang cocok untuk peternakan sapi perah terlebih dahulu, serta perlu adanya perbaikan sistem birokrasi pemerintah serta adanya pihak-pihak yang benar-benar konsisten dalam pembangunan peternakan

Dwitiya : Berbagai pro dan kontra yang terdapat dalam bidang peternakan, tinggal bagaimana kita (mahasiswa) bisa berfikir positif dan menemukan solusi terbaik untuk peternakan kedepan yang lebih maju karena kita adalah agent of change

Comments

Berbagi Nyata Bidang Peternakan di Pedesaan

Gerakan Indonesia Gaduhan Kambing atau disingkat Gerakan (IGK) merupakan suatu gerakan dengan terobosan baru hasil dari perpaduan pada beberapa aspek yaitu: aspek pemberdayaan masyarakat, kesejahteraan rakyat, pendidikan, pengembangan sumber daya manusia, sosial dan ekonomi, budaya, aplikasi ilmu ekonomi syariah, serta peternakan yang mempunyai tujuan untuk meningkatkan kesejahteraan masyarakat khususnya petani dan peternak secara berkelanjutan. Konsep pada Gerakan IGK cenderung kepada aspek pemberdayaan masyarakat yang didukung dengan adanya tranfer ilmu pengetahuan dan teknologi yang saling memberikan kesesuaian pada masing-masing bidang, serta didasarkan pada aplikasi ilmu ekonomi syariah berbasis peternakan. Aspek pemberdayaan masyarakat yang menjadi ujung tombak pada gerakan ini diharapkan mampu memberikan keberdayaan dan kekuatan baik secara moril maupun materil pada petani-peternak yang haus akan “ladang” sebagai sarana untuk melakukan peningkatan kehidupan secara ekonomi dan pendidikan.

Pemberdayaan masyarakat yang diusung pada gerakan ini berdasarkan kemudahan dalam hal pemberdayaan, hal ini dimaksudkan bahwa pemberdayaan masyarakat dilakukan sesuai dengan aktivitas atau sebagian mata pencaharian penduduk di Indonesia. Penduduk Indonesia sebagian besar bekerja pada sektor pertanian (termasuk di dalamnya terdapat sub sektor peternakan). Selanjutnya bagian apa yang menyebabkan pemberdayaan masyarakat menjadi mudah, murah, serta efisien? Sistem ekonomi islam mengenal istilah mudharabah. Mudharabah yaitu suatu bentuk kerjasama antara dua pihak yaitu pemodal dan pengelola dengan mengedepankan bagi hasil (profit sharing) pada keuntungan yang diperoleh berdasarkan kesepakatan, serta tidak adanya beban kerugian yang diterima oleh pengelola apabila timbul kerugian pada kegiatan usaha atau kerjasama tersebut secara wajar. Implementasi konsep mudharabah dalam sub sektor peternakan adalah gaduhan hewan ternak, tentunya tidak terlepas dari aspek pemberdayaan masyarakat (peternak). Secara nyata, pemilik modal (pemodal) adalah pemilik hewan ternak berupa kambing, sedangkan pengelola adalah peternak yang mengurus hewan ternak (kambing) tersebut.

Secara perhitungan, tanpa memperhitungkan kerugian yang ditimbulkan akibat dari kesengajaan untuk kecurangan dalam kerjasamaatau faktor alamiah yang ada, konsep gaduhan kambing dalam Gerakan Indonesia Gaduhan Kambing memiliki keuntungan yang luar biasa, baik dari sisi finansial maupun nonfinansial. Keuntungan finansial dari konsep gaduhan kambing bisa dilihat dari produktivitas ternak, misalnya apabila ada dua ekor kambing (jantan-betina) dalam kurun waktu dua tahun mampu beranak dua hingga 3 kali dan setiap kelahiran dua hingga tiga ekor anak, maka dalam waktu dua tahun tersebut mampu menghasilkan enam hingga sembilan ekor kambing (tentunya dengan monitoring terhadap siklus reproduksi ternak tersebut). Jika dikonversi dalam angka rupiah, dua ekor kambing awal senilai Rp1.500.000,00 dalam kurun waktu tiga tahun terdapat enam hingga sembilan ekor kambing dewasa senilai Rp4,5 juta sampai Rp6,75 juta. Konsep bagi hasil dari keuntungan tersebut tergantung kesepakatan, namun secara umum pemodal (pemilik kambing) mendapatkan 33,33% sedangkan pengelola (peternak kambing) mendapatkan 66,66%.  Sedangkan keuntungan nonfinansial yang diperoleh antara lain menambah ikatan persaudaraan, memiliki nilai kebermanfaatan atas harta yang dimiliki, serta mampu ikut serta dalam memberdayakan masyarakat dalam meningkatkan taraf perekonomian yang memiliki dampak berlipat (multiplier effect) terhadap kehidupan masyarakat atau petani tersebut.

Gerakan Indonesia Gaduhan Kambing tidak akan menghasilkan dampak yang luar biasa bagi Indonesia, Negeri Kita, apabila dikerjakan oleh beberapa kelompok tanpa diikuti dan didukung oleh banyak pihak, namun kami yakin apabila gerakan ini didukung, diikuti, diduplikasikan, serta digetok-tularkan ke seluruh Nusantara dampak yang luar biasa akan muncul seiring partisipan yang berpartisipasi dalam gerakan ini, tentunya partisipan yang benar-benar serius dan amanah terhadap tanggungjawab yang ada dalam masing-masing pihak, baik itu peternak, pemodal, maupun volunter Gerakan IGK. Kuncinya : Kejujuran dan Kepercayaan dalam menjalankan dan menggerakkan gerakan ini !!!

Gerakan ini digagas pertama kali di Yogyakarta pada 3 April 2013 dan merupakan salah satu rangkaian program pengabdian masyarakat dengan judul ” Community Development berbasis sistem Pertanian Terpadu Menuju Integrasi antara Pendidikan, Pertanian, dan Lingkungan Hidup secara aman, Sejahtera, dan Berkelanjutan : Studi Pengabdian Masyarakat pada Siswa-Siswi MTs Insan Qoryah dan Masyarakat Lereng Gunung Merapi di Baerah Tlogolele, Selo, Boyolali, Jawa Tengahyang dibiayai oleh Pertamina Foundation dalam Ajang Anugerah Riset Sobat Bumi 2013 Bidang Pengabdian Masyarakat.

Salam pemberdayaan.. 🙂

Comments (90)

Agrowisata : Antara Potensi, Kontribusi, dan Eksistensi

Potensi Pengembangan Kawasan Agrowisata di Indonesia

Berawal dari pencanangan Program Revitalisasi Pertanian Perikanan dan Kehutanan (RPPK) oleh Presiden Susilo Bambang Yudhoyono pada tanggal 11 Juni 2005 dimana implementasinya dibagi menjadi tiga kelompok sasaran pembangunan yaitu : 1) Peningkatan Produk Domestik Bruto (PDB), investasi dan kesempatan kerja, 2) Ketahanan pangan 3) Nilai tambah dan daya saing, yang akan dicapai melalui tiga program pembangunan pertanian tahun 2005-2009 yaitu 1) Program Peningkatan Ketahanan Pangan, 2) Program Pengembangan Agribisnis,  3) Program Peningkatan Kesejahteraan Masyarakat. Laporan tersebut lebih ditekankan pada program kedua yaitu program pengembangan agribisnis melalui pengembangan kawasan agrowisata (BPTP NTB, 2009).

Agrowisata merupakan bagian dari obyek kepariwisataan yang memanfaatkan usaha pertanian (agro) sebagai obyek utama. Kegiatan agrowisata bertujuan memperluas wawasan pengetahuan, pengalaman, rekreasi, dan hubungan usaha di bidang pertanian yang meliputi tanaman pangan, holtikultura, perkebunan, perikanan dan peternakan yang didukung leh kehutanan dan sumber daya pertanian.Pengembangan agrowisata pada hakikatnya merupakan upaya terhadap pemanfaatan potensi atraksi wisata pertanian. Berdasarkan Surat Keputusan (SK) bersama antara Menteri Pariwisata, Pos dan Telekomunikasi dan Menteri Pertanian No. KM.47/PW.DOW/MPPT-89 dan No. 204/KPTS/HK/050/4/1989 agrowisata sebagai bagian dari objek wisata, diartikan sebagai suatu bentuk kegiatan yang memanfaatkan usaha agro sebagai objek wisata dengan tujuan untuk memperluas pengetahuan, pengalaman rekreasi dan hubungan usaha di bidang pertanian. Agrowisata diberi batasan sebagai wisata yang memanfaatkan objek-objek pertanian (Tirtawinata dan Fachruddin, 1996). Pandangan saat ini tentang pertanian tampaknya dilihat dari dua kutub yang berbeda. Saragih (2001) melihat sektor  pertanian sebagai suatu kegiatan bisnis (agribisnis), dan Mubyarto (1975) memandang kegiatan sektor pertanian sebagai way of life dari masyarakat. Hal ini bermakna bahwa meskipun kegiatan di sektor pertanian harus dipandang sebagai kegiatan bisnis, namun tidak dapat dipungkiri bahwa kegiatan di sektor pertanian pada dasarnya masih merupakan bagian dari budaya dari kehidupan masyarakat setempat.

Soemarno (2004), mengatakan bahwa upaya pengembangan kawasan agrowisata yang memanfaatkan potensi sumber daya alam lokal dan melibatkan masyarakat pedesaan dapat berfungsi sebagai pemberdayaan masyarakat selaras dengan pemberdayaan masyarakat berbasis pariwisata (community based tourism). Pemberdayaan masyarakat tersebut dapat dilakukan dengan mengikutsertakan peran dan aspirasi masyarakat pedesaan selaras dengan pendayagunaan potensi sumber daya alam dan sumber daya manusia yang dimilik. Oleh karena itu, perlu adanya pembinaan secara berkesinambungan agar potensi yang dimiliki daerah tersebut dapat digali secara optimal dan berkelanjutan sehingga dapat memberikan hasilmaksimal bagi petani, masyarakat desa, pengusaha dan menjadi sumber pendapatan yang diandalkan.

Kehidupan masyarakat pedesaan pada hakikatnya masih memiliki sifat gotong royong yang mendalam, yang membuktikan bahwa kehidupan selalu dibarengi dengan berbagai upaya yang dapat menghasilkan bekal, bagi kelangsungan hidup. Pertanian adalah salah satu usaha yang sejak lama dan turun temurun, menjadi bagian mata pencaharian masyarakat di pedesaan, usaha pertanian telah membentuk pola hidup masyarakat tidak hanya sekedar mengolah ladang, kebun, persawahan, dan hutan, bertenak dan memburu kayu di hutan tetapi apa yang mereka kerjakan dengan tanpa disadari telah membentuk satu daya tarik bagi orang lain yang melihatnya. Misalnya seorang petani yang membajak sawah dengan menggunakan kerbau sebagai binatang penghela bajak, telah memberikan nuansa tradisi budaya masyarakat yang bagi orang lain menjadi daya tarik.

Kebijakan umum Kementerian Pertanian dalam membangun pertanian bertujuan untuk meningkatkan pendapatan dan tarap hidup petani, peternak, dan nelayan, memperluas lapangan kerja dan kesempatan berusaha, menunjang pembangunan industri serta meningkatkan ekspor. Untuk itu, usaha diversifikasi perlu dilanjutkan disertai dengan rehabilitasi yang harus dilaksanakan secara terpadu, serasi, dan merata disesuaikan dengan kondisi tanah, air dan iklim, dengan tetap memelihara kelestarian kemampuan sumber daya alam dan lingkungan hidup serta memperhatikan pola kehidupan masyarakat setempat (Soemarno, 2004).

Berdasarkan kebijakan umum tersebut, terlihat bahwa antara pariwisata dan pertanian dapat saling mengisi dan menunjang dalam meningkatkan daya saing produk pariwisata dan produk pertanian Indonesia dalam rangka meningkatkan perolehan devisa dari komoditi ekspor non migas. Sebagai negara agraris, sektor pertanian merupakan sektor yang dominan dan merupakan tulang punggung perekonomian Indonesia. Upaya peningkatan dan penganekaragaman usaha pertanian terus ditingkatkan secara intensif dan terencana, baik yang secara tradisional maupun modern merupakan potensi kuat yang dapat dikembangkan sebagai daya tarik yang dapat dinikmati oleh wisatawan nusantara maupun mancanegara.

Agrowisata bukan semata merupakan usaha atau bisnis di bidang jasa yang menjual jasa bagi pemenuhan konsumen akan pemandangan yang indah dan udara yang segar, namun juga dapat berperan sebagai media promosi produk pertanian, menjadi media pendidikan masyarakat, memberikan signal bagi peluang pengembangan diversifikasi produk agribisnis dan berarti pula dapat menjadi kawasan pertumbuhan baru wilayah. Dengan demikian, maka agrowisata dapat menjadi salah satu sumber pertumbuhan baru deerah, sektor pertanian dan ekonomi nasional. Potensi agrowisata yang sangat tinggi ini belum sepenuhnya dikembangkan dan dimanfaatkan secara optimal. Untuk itu, perlu dirumuskan langkah-langkah kebijakan yang konkrit dan operasional guna tercapainya kemantapan pengelolaan objek agrowisata di era globalisasi dan otonomi daerah. Sesuai dengan keunikan kekayaan spesifik lokasi yang dimiliki, setiap daerah dan setiap objek wisata dapat menentukan sasaran dan bidang garapan pasar yang dapat dituju. Upaya pengembangan agrowisata dibutuhkan kerjasama sinergis diantara pelaku yang teribat dalam pengelolaan agrowisata, yaitu masyarakat, swasta dan pemerintah.

Kontribusi Agrowisata terhadap Pariwisata di Indonesia

Kontribusi agrowisata terhadap pariwisata dapat diketahui salah satunya dengan melihat jumlah wisatawan yang berkunjung. Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) telah menyetujui suatu metode pengukuran dampak ekonomi pariwisata yang disebut Tourism Satellite Account (TSA). TSA ini merupakan satu-satunya satellite account yang telah disetujui oleh PBB dari berbagai sektor ekonomi lainnya. Indonesia melalui Badan Pusat Statistik dan Kementerian Kebudayaan dan Pariwisata mulai menerapkan dan mengembangkan TSA pada tahun 2001 yang dikenal dengan istilah Neraca Satelit Pariwisata Nasional (NESPARNAS). Bagi Indonesia perkembangan pariwisata tersebut terindikasi dari peningkatan jumlah wisatawan mancanegara dari tahun ke tahun.

Kontribusi agrowisata terhadap pariwisata juga dapat dari jumlah penerimaan yang diperoleh oleh pemerintah baik dari devisa maupun pajak, Tidak hanya itu, agrowisata yang melibatkan peran masyarakat daerah sebagai pengelola agrowisata dapat meningkatkan pendapatan daerah, mengurangi tingkat pengangguran dengan pemanfaatan sumber daya manusia lokal sebagai tenaga kerja,  pelestarian budaya masyarakat yang secara turun temurun bermata pencaharian sebagai petani serta pelestarian lingkungan dengan penerapan sistem agrowisata secara berkelanjutan.

Upaya agrowisata dapat berkelanjutan maka produk agrowisata yang ditampilkan harus harmonis dengan lingkungan lokal spesifik. Dengan demikian, masyarakat akan peduli terhadap sumberdaya wisata karena memberikan manfaat sehingga masyarakat merasakan kegiatan wisata sebagai suatu kesatuan dalam kehidupannya. Partisipasi lokal memberikan banyak peluang secara efektif dalam kegiatan pembangunan dimana hal ini berarti bahwa memberi wewenang atau kekuasaan pada masyarakat sebagai pemeran sosial dan bukan subjek pasif untuk mengelola sumberdaya membuat keputusan dan melakukan kontrol terhadap kegiatan-kegiatan yang mempengaruhi kehidupan sesuai dengan kemampuan mereka. Adanya kegiatan agrowisata haruslah menjamin kelestarian lingkungannya terutama yang terkait dengan sumberdaya hayati renewable maupun nonrenewable, sehingga dapat menjamin peningkatan kesejahteraan masyarakat di kawasan tersebut.

Kawasan agrowisata sebagai sebuah sistem tidak dibatasi oleh batasan-batasan yang bersifat administratif, tetapi lebih pada skala ekonomi dan ekologi yang melingkupi kawasan agrowisata tersebut. Ini berarti kawasan agrowisata dapat meliputi desa-desa dan kota-kota sekaligus, sesuai dengan pola interaksi ekonomi dan ekologinya. Kawasan-kawasan pedesaan dan daerah pinggiran dapat menjadi kawasan sentra produksi dan lokasi wisata alam, sedangkan daerah perkotaan menjadi kawasan pelayanan wisata, pusat-pusat kerajinan, yang berkaitan dengan penanganan pasca panen, ataupun terminal agribisnis. Kawasan agrowisata yang dimaksud merupakan kawasan berskala lokal yaitu pada tingkat wilayah Kabupaten/Kota baik dalam konteks interaksi antar kawasan lokal tersebut maupun dalam konteks kewilayahan propinsi atau pun yang lebih tinggi.

Penguatan Eksistensi Indonesia sebagai Negara Agraris melalui Agrowisata

Kondisi pertanian Indonesia saat ini sangat dilematis. Indonesia berjargon negara agraris namun serba kekurangan komoditi hasil pertanian untuk konsumsi rakyatnya. Itu fakta yang terjadi sejak tahun 1984 yang lalu Indonesia menjadi satu negara agraris yang tampil “gagah” dengan swasembadanya. Sebagai negara agraris, Indonesia seharusnya menjadi negara yang memberi makan dunia, namun pada kenyataannya saat ini Indonesia belum mampu untuk mewujudkannya.

Sebelum krisis ekonomi tahun 1998, Indonesia pernah menjadi negara dengan kekuatan ekonomi baru barada bersama-sama dengan Malaysia dan Thailand. Indonesia sempat menjadi model pembangunan ekonomi yang bekelanjutan khususnya untuk negara sedang berkembang dengan pertumbuhan ekonomi yang cukup baik (Tambunan, 2006). Upaya tersebut merupakan keberhasilan Presiden Soeharto yang menggerakkan program pertanian yang secara khusuk  menyediakan pupuk murah, irigasi bagus, kolom pencapir, program dari desa ke desa, bahkan dalam syair lagunya Koes Plus menyebutkan “orang bilang tanah kita tanah surga, tongkat kayu dan batu jadi tanaman” itu adalah benar.  Kini tanah surga itu telah berganti dengan kegersangan.

Pengembangan dan pembangunan pertanian melalui sektor agrowisata dirasa mampu untuk mengembalikan eksistensi Indonesia sebagai Negara agraris apabila program ini dijalankan dengan struktur dan manajemen yang baik. Saat ini sector pertanian masih memegang peranan penting karena hampir 45% (41 juta) penduduk Indonesia bekerja pada sector ini dari 100 juta angkatan kerja yang ada. Rata-rata berkontribusi 17% terhadap GDP (Deptan Indonesia, 2005). Menurut ADB, masyrakat miskin mayoritas bekerja sebagai petani, dan jika 45% penduduk Indonesia adalah petani, berarti penduduk miskin Indonesia masih cukup tinggi. Pernyataan tersebut dikuatkan oleh data Biro Pusat Statistik Indonesia juga menunjukkan bahwa sampai Agustus 2010, jumlah tenaga kerja Indonesia di bidang pertanian, kehutanan dan perikanan adalah 41,4 juta dari total angkatan kerja sebanyak 108,2 juta, sedangkan sisanya terdistribusi dalam delapan bidang pekerjaan lain. Hal ini menunjukkan bahwa bidang pertanian sesungguhnya paling potensial dalam menyerap tenaga kerja. Persoalannya adalah bagaimana membuat pasar tenaga kerja pertanian tersebut diisi oleh orang-orang yang benar-benar potensial, mempunyai visi dan instink bisnis yang kuat sehingga dapat menggerakkan investasi besar di bidang pertanian.

Menurut Yuwono (2011) membangun pertanian adalah membangun citra dan kedaulatan Indonesia menuju kejayaan yang pernah disandang oleh Indonesia sebagai Negara agraris yang kuat, kaya dengan sumber daya dan hasil pertanian yang berkualitas tinggi di mata internasional. Sekarang yang menjadi persoalannya adalah  bagaimana cara membangun dan membangkitkan gairah untuk membangun sektor pertanian tersebut?

Artikel yang berjudul Want to Make More than a Banker? Become a Farmer!, Stephen Gandel menulis bahwa di Amerika Serikat saat ini mulai timbul kesadaran bahwa menjadi petani adalah pekerjaan paling bagus pada abad ke-21. Penghasilan petani meningkat tajam karena kenaikan harga pangan, meskipun ada keraguan di beberapa pihak, namun Jim Rogers, seorang penulis terkenal mengenai investasi merasa sangat yakin bahwa pertanian akan meningkat secara dramatis dalam beberapa dekade ke depan, lebih cepat dibanding dengan industri-industri yang lain, bahkan termasuk Wall Street sebagai kiblat investasi.

Menurut Guntoro, et al., (2010) menyatakan bahwa suatu konsep agrowisata (agrotourism) bisa diterapkan integrasi antara experience, yaitu pengalaman yang berdasar pada aktivitas pertanian seperti menunggang hewan serta kegiatan yang berorientasi dari usaha agro. Setting, yaitu lingkungan alam budaya, kebiasaan, serta aktivitas keseharian, yang didukung oleh dua aspek lain yaitu provider dan tourists. Pembangunan dan pengembangan agrowisata menuntut proses produksi berjalan secara berkelanjutan dengan memperhatikan aspek lingkungan, sehingga dapat memacu tumbuhnya minat dan semangat untuk terus menggenjot produksi pangan dengan pengolahan sumber daya hayati yang ada dengan baik dan benar, sehingga dapat membantu tercapainya program ketahanan pangan Indonesia. Dengan demikian, akan tercipta swasembada pangan yang selama ini diidam-idamkan oleh seluruh rakyat Indonesia. Yang perlu disadari adalah sektor pertanian bukan saja sektor produksi. Pertanian memiliki backward linkage dan forward linkage, atau keterkaitan antara hulu dan hilir. Multifungsi pertanian menurut Huylenbrock, et al., (2007) dikategorikan menjadi tiga, yaitu green functions, the blue services and the yellow services. Green function merupakan manajemen lahan yang meliputi manajemen lanskap, pemeliharaan keanekaragaman hayati dan penciptaan habitat satwa liar. Blue service merupakan manajemen air, termasuk pengelolaan air, peningkatan kualitas air dan pengendalian banjir. Yellow service dapat berupa kepaduan pedesaan dan vitalitas (daya hidup), pemeliharaan warisan budaya, menciptakan identitas regional dan agrowisata.

Tidak ada yang dapat memungkiri peranan pertanian bagi tegaknya suatu negara. Kemampuan suatu negara untuk mencukupi kebutuhan pangan bagi warganya merupakan faktor kritis yang menentukan dari suatu negara dapat menegakkan kedaulatannya khususnya kedaulatan pangan. Oleh karena itu, menempatkan pertanian dalam posisi yang setara dengan bidang-bidang keilmuan dan usaha yang lain, keteknikan, kedokteran, manajemen dan lain-lain, menjadi suatu keharusan. Upaya pembangunan dan pengembangan pedesaan dalam sektor pertanian melalui agrowisata merupakan langkah yang tepat. Jika agrowisata dapat dikembangkan secara masif di Indonesia, maka jalan untuk mengentaskan masyarakat miskin dari kubangan kemiskinan tersebut semakin menemui jalan terang setidaknya pariwisata dapat menjadi penolong bagi program pengentasan kemiskinan tersebut dan lambat laun sektor pertanian dapat dibangkitkan kembali seperti yang terjadi di Amerika saat ini. Agrowisata dapat dinikmati melalui sajian panorama alam pertanian yang hijau, sejuk dan indah, praktik aktivitas pertanian secara langsung seperti menanam bunga , sayuran dan pohon, memerah susu, menunggang kuda, menggembalakan ternak, mengolah produk-produk pertanian dan peternakan dan dapat pula dikembangkan dengan beberapa sajian budaya dan tradisi lokal seperti seni tari, lagu daerah, pakaian daerah, rumah adat dan sebagainya.

Kemanakah arah pembangunan pariwisata berbasis kegiatan agro ini berpijak?

Comments (17)

Sobat Bumi Indonesia dan Aksi Nyata Cinta Bumi

“Jika bukan manusia yang menjaga dan merawat bumi ini, siapa lagi?” sebuah pernyataan yang sering didengar dan harus tetap diimplementasikan oleh semua sobat bumi. Menjadi “sobat bumi” yang sesungguhnya dengan mampu mengetahui dalam tataran analisis maupun teknis yang berkaitan sobat bumi tentu merupakan suatu langkah tepat yang akan membantu terlaksananya pernyataan tersebut. Pertamina Foundation merupakan salah satu yayasan nirlaba yang turut serta dalam mendukung kepedulian terhadap bumi melalui Program Beasiswa Sobat Bumi yang diberikan kepada mahasiswa-mahasiswi di seluruh penjuru negeri dengan mekanisme seleksi yang telah ditentukan, yang akan membantu untuk mampu mengetahui dalam tataran analisis maupun teknis yang berkaitan dengan aktivitas sobat bumi bagi para scholars-nya.

Beragam kegiatan berwawasan lingkungan dari Program Beasiswa Sobat Bumi yang harapannya mampu untuk mencetak kader-kader pemimpin yang memiliki wawasan dan kepedulian terhadap lingkungan hidup sekaligus mampu berfungsi sebagai promotor di gerakan lingkungan masing-masing. Kegiatan tersebut antara lain Gathering Sobat Bumi, Rapat Kerja Nasional, serta Aksi Sobat Bumi baik yang berasal dari kesepakatan Rapat Kerja Nasional maupun inisiasi scholars dari daerah masing-masing. Berawal dari Gathering Sobat Bumi yang dilaksanakan pada tanggal 13 sampai 15 Desember 2012 di Kawasan Pertamina Geothermal Energy, Kamojang, Jawa Barat seakan menjadi sebuah rangkaian estafet perubahan untuk semakin cinta dengan lingkungan hidup, bagaimana tidak? dalam acara yang diikuti oleh mahasiswa dari berbagai Perguruan Tinggi Negeri (PTN) di Indonesia yang dipenuhi dengan semangat silaturahim secara nasional yang tidak terlepas dari wawasan lingkungan hidup.

Rangkaian acara gathering selama tiga hari tersebut dihadiri oleh 208 mahasiswa dari 17 Perguruan Tinggi Negeri dari Sabang sampai Merauke yang menjadi mitra antara lain : Universitas Syiah Kuala (Unsyiah), Universitas Sumatera Utara (USU), Universitas Sriwijaya (Unsri), Institut Teknologi Bandung (ITB), Universitas Padjadjaran (Unpad), Institut Pertanian Bogor (IPB), Universitas Indonesia (UI), Universitas Gadjah Mada (UGM), Universitas Diponegoro (UNDIP), Universitas Brawijaya (UB), Universitas Airlangga (UNAIR), Institut Teknologi Sepuluh November (ITS), Universitas Udayana (Udayana), Universitas Mataram (Unram), Universitas Mulawarman (Unmul), serta Universitas Hasanuddin (Unhas) serta dihadiri juga pemeran Film Laskar Pelangi.

Materi pada acara gathering tersebut juga dikemas secara menarik diantaranya Acara Seni Bercita-cita dan Merencanakan Masa Depan oleh A. Fuadi Penulis Novel Negeri 5 Menara, Pemaparan Hasil Tallent Mapping oleh Tallent Development Centre Indonesia (TDC Indonesia), Bersahabat dengan Alam oleh Bapak Ir. Dadang Muhammad selaku Direktur Utama PT. Bumi Calipha Nusantara, Narasi Besar Sobat Bumi, One Minute Awareness yang dipaparkan oleh Bapak Nanang Qosim Yusuf, Sobat Bumi Character Development, How to Raise Fund for Sosial-enterpeuner” Oleh Kornel Hilmawan Soemardi, serta ikut serta dalam Menabung Pohon 55.000 dan Deklarasi Menabung 1 Milyar Pohon oleh Relawan Gerakan Menabung Pohon yang juga dihadiri oleh Komisaris Utama PT. PERTAMINA Persero, Bapak Sugiharto.

Satu hal yang menjadikan event gathering ini unik ialah “Bersahabat dengan Masyarakat Kamojang” dengan menempatkan peserta (mahasiswa) untuk tinggal bersama orang tua asuh yaitu masyarakat sekitar PT. Pertamina Geothermal Energy, Kamojang, Jawa Barat. Hal ini bertujuan untuk mengembalikan salah satu peran mahasiswa yaitu dekat dengan masyarakat sekaligus mendengar aspirasi yang disampaikan oleh masyarakat. “Ini seperti program “Jika Aku Menjadi” disalah satu televisi swasta”, ujar salah satu panitia pelaksana ditengah-tengah pembagian tempat. “Diharapkan setelah pembekalan ini mahasiswa akan menjadi calon-calon pemimpin, sekaligus duta-duta di bidang pendidikan dan lingkungan,” kata Direktur Eksekutif Pertamina Foundation, Nina Nurlina Pramono dalam pelatihan pembekalan kepemimpinan tersebut, Sabtu (15/12).

Tak hanya sampai diacara gathering saja, kegiatan yang paling berkesan ialah ketika scholars merumuskan program kerja atau kegiatan yang akan diadakan di tahun 2013 melalui rangkaian dari Rapat Kerja Nasional, Gathering Alumni, dan Aksi Selamatkan Bumi yang berlangsung pada tanggal 15 sampai 17 Februari di Graha Wisata Ragunan, salah satu program yang disepakati adalah program komunitas, selain perencanaan program jangka panjang, juga dilakukan program jangka pendek berupa aksi selamtkan bumi dipenghujung kegiatan Rapat Kerja Nasional yaitu pembagian 1000 goody bag sebagai upaya mengajak masyarakat untuk lebih bijak dalam menggunakan plastik dalam aktivitas keseharian.

Prencanaan dan pelaksanaan program komunitas serentak dilaksanakan di seluruh regional di Indonesia, salah satunya ketika memperingati Hari Bumi Internasional (Earth Day). Program yang diusung di Regional Daerah Istimewa Yogyakarta ialah Code Clean, yaitu membersihkan sebagian kecil bantaran Kali Code yang membelah Kota Yogyakarta sekaligus sebagai icon dari Kota Budaya dan Wisata ini dengan tema “gotong royong untuk sungai kita”. Tak hanya Komunitas Sobat Bumi yang terjun langsung dalam kegiatan CODE CLEAN tetapi juga didukung oleh komunitas lain di Daerah Istimewa Yogyakarta, antara lain Komunitas Forum Pelajar Peduli Lingkungan (FPPL) dan Pemuda Tata Ruang Kota (Petarung Kota).

Perjalanan aksi CODE CLEAN di Yogyakarta, tidak serta-merta hadir lalu membersihkan sebagian bantaran Kali Code akan tetapi juga mengajak secara bersama-sama masyarakat Yogya khususnya anak-anak muda Yogya untuk ikut mencintai sebagian potensi wisata sungai (river-tourism) yang bisa menunjang pariwisata Yogya dimasa yang akan datang dan belum dikembangkan sampai saat ini. Hal yang tidak kalah pentingnya adalah ketika terjadi interaksi antara masyarakat yang berada di bantaran sungai dengan sobat bumi dan masyarakat pada umumya secara luwes, melihat kehidupan warga, sekaligus menaruh empati yang mendalam tentang cara atau metode masyarakat bantaran sungai untuk peduli terhadap lingkungan sekitar, dalam hal ini Kali Code Yogyakarta.

Salam sobat bumi..!!!

Comments (6)

Catatan Singkat Kuliah Umum dengan Menkominfo RI, Tifatul Sembiring di UGM Yogyakarta

Sabtu, 8 Maret 2014 yang lalu, saya menghadiri salah satu agenda dalam Gebyar Inovasi Pemuda Indonesia, yaitu Kuliah Umum dari Menteri Komunikasi dan Informatika (Menkominfo) Republik Indonesia, Bapak Tifatul Sembiring di Grha Sabha Pramana UGM Yogyakarta. Diawali dengan beberapa pantun khas yang diucapkan beliau sambil sering mengungkapkan kenyamanannya di Yogyakarta, perkuliahan umum yang dihadiri lebih dari 2000 peserta tersebut dimulai dengan isu sadap-menyadap kepala negara maupun kepala pemerintahan di dunia internasional. “Dunia sadap-menyadap itu bukan hal baru, motif terbesarnya adalah dalam hal kekuasan dan ekonomi” Ujar Bapak Tifatul Sembiring. “Peningkatan jumlah penduduk dunia yang diperkirakan 8 miliar manusia pada tahun 2025, maka akan terjadi perebutan sumber daya (resources) yaitu pangan, air dan energi yang merupakan sektor unggulan bagi kacamata bisnis”, tambah Pak Tifatul.

Berbicara ketahanan, berarti tak hanya ketersediaan tetapi juga keamanan. Menurut beliau ada empat hal yang menjadi landasan bangsa Indonesia dimasa yang akan datang, yaitu masa depan Indonesia, ancaman keamanan nasional bagi Indonesia, upaya untuk membangun bangsa besar, mengupayakan ketahanan tersebut. Masa Depan Indonesia. Mimpi Indonesia sebagai 8 besar dunia pada 100 tahun kemerdekaan RI (Tahun 2045), dengan penilaian pada tahun 2011, Indonesia sebagai 16 besar negara di dunia dengan PDB USD 1 Triliun, dan semoga akan meningkat dengan kerjakeras semua pihak. “Kita akan kuat apabila tersambung dari sisi infrastrukur, komunikasi, dan hati”, tambahnya. Ancaman Keamanan Nasional bagi Indonesia. Menurutnya ancaman keamanan nasional bagi negara-negar di dunia ini akan terus berubah seiring dengan dinamika yang terjadi. “Ancaman keamanan nasional bagi Amerika Serikat adalah terorisme, China yang dahulu ideologi kapitalisme sekarang menjadi krisis energi, sedangkan Indonesia sekarang ancaman keamanan nasional adala pecahnya NKRI (disintegration of nation)” ujar Pak Tifatul.

Kesempatan tersebut Pak Tifatul juga memberikan arahan bagi peserta yang hadir akan kebesaran bangsa Indonesia. “Kita harus sadar, Indonesia Bangsa Besar.” Bangsa Indonesia terdiri dari 17.500 pulau, dengan lebar lebih dari 5.400 km, 200 lebih suku bangsa dan lebih dari 300 jenis bahasa. “Apabila memakai pesawat jet, waktu yang diperlukan untuk menempuh Sabang hingga Merauke sekitar 9 jam”, tambahnya. Ada 4 kriteria pemimpin menurut beliau : berjuang tanpa pamrih dan tanpa memperkaya (punya moral), visioner, mengerti strategi strategi dan operasional manajemen, memiliki kompetensi (skill), serta mampu berkomunikasi dalam arti mengkomunikasikan ide dan mampu mengajak masyarakat dalam merealisasikan idenya.

Terlepas dari pemaparan mengenai wawasan kepemimpinan dan wawasan kebangsaan yang diberikan, beliau juga menyampaikan dukungan dari pemerintah melalui Kemenkominfo dengan adanya Platform ICT untuk Kemandirian Pangan, Energi, dan Kesehatan. Selain hal tersebut juga ada pemaparan tentang kondisi pengguna selular dan beberapa program dari Kemenkominfo antara lain Desa Berdering, kerjasama pembangunan BTS dengan operator selular dengan menggunakan energi biogas, serta adanya 1000 titik WIFI gratis di seluruh kota/kabupaten di Indonesia yang bekerja sama dengan Telkom. Kuliah umum tersebut diakhiri dengan adanya diskusi dan tanya jawab yang diikuti peserta yang ditentukan oleh MC dan Pak Tifatul Sembiring.

Comments

Hello world!

Selamat datang di blog.ugm.ac.id. Ngebloglah dan curahkan pikiran anda disini. Silahkan menggunakan fasilitas ini dengan penuh tanggung jawab.

Admin blog akan melakukan peringatan apabila ada abusement/pelanggaran dalam penggunaan fasilitas ini.

selamat berkarya 🙂

Comments (2)